Leluhur masyarakat Ameth diyakini berasal dari wilayah yang jauh, yaitu Maharaja Guna Pattinasirat dan Sopaheri Berhitu. Setelah melakukan pelayaran dan pengembaraan, mereka menemukan wilayah yang layak dihuni di Nusalaut. Awalnya, permukiman dibangun di daerah perbukitan yang cukup jauh dari pantai dengan tujuan menghindari serangan musuh dan potensi peperangan.
Permukiman pertama tersebut bernama Irihatu, yang dikenal sebagai negeri lama Ameth. Pendirian Irihatu dipimpin oleh Maharaja Guna Pattinasirat. Pada masa kepemimpinannya, wilayah ini dibagi menjadi lima soa: Soa Rumah Hitam, Rumah Putih, Hursepuny-Tarumseley, Molle-Manduapessy, dan Hatalea. Masing-masing soa dipimpin oleh kepala soa, yang bersama raja membentuk dasar pemerintahan awal di Negeri Ameth.

Setelah masa pemerintahan Maharaja Guna Pattinasirat berakhir, keturunan Sopaheri Berhitu dari fam Berhitu memegang tampuk kekuasaan. Raja pertama dari garis ini adalah Sopaheri Berhitu, yang kemudian digantikan oleh Pieter Tahitoe Sopaheri Berhitu. Pada masa pemerintahan Raja Berhitu II inilah masyarakat Ameth mulai mengenal ajaran Protestan. Saat itu, negeri masih berada di wilayah pedalaman. Perpindahan seluruh permukiman ke daerah pesisir—yang menjadi lokasi Ameth saat ini—terjadi pada masa pemerintahan Pieter Tarihula Berhitu (Raja Berhitu III).
